Tarif Impor Naik 32 Persen, Begini Dampak Kebijakan Tarif Donald Trump
- Herlambang Ichtiarto
- 10 Apr, 2025
Kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diprediksi akan mengguncang pasar Internasional. Kebijakan ini juga akan mengguncang Indonesia, yang akan dikenakan kenaikan tarif impor sebesar 32 persen oleh Trump.
Dilansir dari Kompas.com, Guru Besar di
Fakultas Ekonomi & Manajemen IPB Bogor, Didin S Damanhuri memandang ada
tujuh dampak yang akan dirasakan oleh Indonesia akibat tarif impor Donald
Trump.
Pertama, Ia menilai bahwa nilai tukar
rupiah terhadap AS akan meningkat drastis, diperkirakan mencapai 17.000 per
dollar AS.
"Dua, akan banyak perusahaan besar
melakukan PHK besar-besaran, mengingat dalam usahanya terhadap unsur dollar AS.
Sehingga bisa terancam mempailitkan dirinya/bangkrut dan dalam waktu dekat
mereka kemungkinan memilih PHK sebagai upaya rasionalisasi korporasi,"
ujar Didin lewat keterangan tertulisnya yang sudah dikonfirmasi, Sabtu
(5/4/2025), dilansir dari Kompas.
Dua peristiwa tersebut bakal mempengaruhi usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penerimaan pajak juga akan semakin menurun,
setelah sebelumnya telah anjlok sebesar 30 persen.
“Kemudian, terjadi turunnya daya beli
masyarakat secara lebih massif lagi, yang kini pun sudah terjadi melemahnya
daya beli masyarakat. Misal mudik baik jumlah orang maupun perputaran uang
turun sekitar 24 persen," ujar Didin.
Penurunan ekonomi besar-besaran tersebut
akan menimbulkan pesimisme kepada pemerintah, baik dari UMKM sampai pengusaha
besar. Di sisi lain, kesulitan ekonomi bakal memicu tingkat kriminalitas yang
sudah semakin meresahkan di Indonesia bakal sangat meningkat.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
mengatakan bahwa paling lambat, Indonesia harus merespon kebijakan tarif
tersebut 9 April 2025. Pemerintah memutuskan untuk menempuh usaha negosiasi dan
diplomasi yang dapat menguntungkan kedua negara.
“Indonesia menyiapkan rencana aksi dengan
memperhatikan beberapa hal, termasuk impor dan investasi dari Amerika
Serikat," kata Airlangga dalam Rapat Koordinasi Terbatas Lanjutan terkait
Kebijakan Tarif Resiprokal Amerika Serikat yang digelar secara virtual di
Jakarta, Minggu (6/4/2025), seperti dikutip dari Antara.
Airlangga juga mengatakan bahwa pemerintah
Indonesia sedang mempersiapkan langkah startegis untuk membuka pasar Eropa. Bagi
Indonesia, Pasar Eropa merupakan pasar terbesar kedua setelah AS dan Cina.
"Ini juga bisa kita dorong, sehingga
kita punya alternatif market yang lebih besar," ucap Airlangga.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
