Marnonang - Filosofi Manjae
- Marina Pasaribu
- 08 Jan, 2026
Manjae, ternyata bukanlah istilah yang lahir dari pernikahan. Akar katanya justru berasal dari masa kanak-kanak. Dalam tradisi Batak, seorang anak yang berusia sekitar satu hingga satu setengah tahun akan dipajae—dilepaskan dari masa menyusui ibunya. Ia tak lagi diberi ASI, meski sang ibu masih ada di dekatnya. Proses ini bukan hal yang mudah. Anak menangis, ibu pun sering kali ikut perih hatinya. Bahkan dulu, ada ibu yang sengaja mengoleskan rasa pahit agar anaknya tak lagi menyusu.
Namun di balik kepahitan itu, tersimpan filosofi besar: kemandirian. Anak dilatih untuk bertumbuh, mengenal makanan lain, dan bersiap menjadi pribadi yang lebih dewasa. Filosofi inilah yang kemudian diadopsi ke dalam kehidupan pernikahan.
Manjae dalam konteks rumah tangga berarti melepaskan anak laki-laki yang telah menikah untuk hidup mandiri bersama istri dan keluarganya. Bukan sekadar pisah rumah, apalagi sekadar mengontrak tempat tinggal. Manjae adalah proses panjang yang sarat persiapan.
Dalam adat Batak yang menganut sistem patrilineal, pihak yang “memajaehon” adalah orang tua dari pihak laki-laki. Namun prosesnya tidak instan. Di masa lalu, setelah menikah, pasangan tidak langsung manjae. Orang tua terlebih dahulu memastikan anaknya benar-benar siap: diajari bertani, beternak, mengelola ekonomi, hingga memahami dan menjalankan Dalihan Na Tolu—bagaimana bersikap sebagai hula-hula, dongan tubu, dan boru.
Manjae menuntut kedewasaan nyata. Jika bangun masih kesiangan, jika hidup masih bergantung sepenuhnya pada orang tua, maka manjae belum layak dilakukan.
Dalam upacara pernikahan, ada simbol-simbol persiapan manjae, seperti bawaan gulungan atau perlengkapan rumah tangga dari pihak perempuan. Itu bukan untuk orang tua, melainkan bekal bagi pasangan yang akan menjalani hidup mandiri.
Setelah manjae, barulah rangkaian adat lain menyusul. Janji-janji sinamot dipenuhi: kerbau untuk penghidupan, sawah untuk dikelola, rumah untuk ditinggali. Di titik inilah prosesi tikkir tangga berlangsung, ditandai dengan kedatangan hula-hula membawa ikan mas. Dahulu, semua ini dilakukan bertahap, bukan disatukan dalam satu hari seperti sekarang.
Sayangnya, seiring waktu, makna manjae sering disederhanakan. Banyak yang mengira manjae cukup dengan pisah rumah dan hidup seadanya. Padahal, tanpa kesiapan ekonomi, mental, dan pemahaman adat, itu belumlah manjae yang sesungguhnya. Bahkan, dorongan manjae kerap datang dari kondisi batin sang istri. Ketika masih tinggal bersama mertua, hasil kerja mereka dikumpulkan oleh orang tua. Kebutuhan kecil pun harus meminta. Beban ini sering dipendam, hingga akhirnya sang istri berkata lirih kepada suami: “Manjae ma hita.”
Di masa lalu, orang tua di kampung mempersiapkan segalanya—lahan, rumah, kebun—bahkan membangunnya bersama lewat gotong royong. Tujuannya satu: agar keluarga baru bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Pada akhirnya, manjae lebih banyak membawa nilai positif. Ia adalah latihan tanggung jawab. Keputusan menikah berarti siap membangun rumah tangga secara utuh—lahir dan batin. Tanpa manjae, peran seorang ayah dan kepala keluarga bisa menjadi samar, karena masih bergantung pada orang tua. Manjae bukan tentang menjauh dari keluarga, melainkan tentang bertumbuh. Tentang keberanian meninggalkan zona nyaman, agar sebuah keluarga benar-benar lahir dan hidup dengan martabatnya sendiri.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
