Turi Turian Sigale gale
- S S
- 07 Apr, 2026
Asal-usul Sigale-gale
Setelah putranya tumbuh dewasa, hati Rahat Raja sangat bersukacita karena merasa sudah ada yang akan melanjutkan garis keturunannya (tarombo). Namun pada suatu waktu, anak tersebut jatuh sakit parah. Raja memanggil datubolon (dukun besar) untuk mengobatinya, tetapi segala upaya sia-sia. Akhirnya, putranya pun meninggal dunia.
Meninggalnya putra mahkota itu membuat sang raja sangat berduka. Ia kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memanggil seorang tukang kayu (pahat) ahli yang bernama Rabat Bulu.
Rahat Raja berkata kepada Rabat Bulu dan kawan-kawannya, "Wahai para ahli kami, kalian lihat sendiri anakku sudah meninggal. Oleh karena itu, tebanglah sebatang pohon dan pahatlah kayu itu hingga menyerupai rupa anakku dalam waktu tiga hari." Setelah selesai dipahat dan diukir, kayu tersebut sangat mirip dengan rupa putra raja. Kemudian dibuatlah tali-tali padanya agar bisa menari. Ternyata, patung itu benar-benar bisa menari layaknya manusia, sehingga hati raja pun terhibur sesaat.
Setelah patung kayu tersebut selesai menari, sang putra pun dimakamkan bersama dengan patung tersebut, namun setelah bagian kepala patung itu diambil terlebih dahulu. Sepulang dari pemakaman, raja berpesan:
"Jika aku meninggal dunia nanti, buatlah kayu yang dipahat seperti itu untuk menari bagi diriku. Namailah ia 'Sigale-gale'. Hapuskanlah duka dan nasib burukku (papurpur sapatangku), tidak boleh ada manusia yang menari untukku, dan habiskanlah seluruh harta kekayaanku. Jangan sampai harta dari orang yang bernasib malang (purpur) sepertiku diwarisi orang lain, agar tidak lahir lagi manusia yang malang seperti aku," ucap Rabat Raja.
Ketika akhirnya sang raja meninggal dunia, rakyat melakukan sesuai dengan pesannya. Mereka membuat Sigale-gale untuk menari, dan seluruh hartanya dibagikan hingga habis. Sejak saat itu, setiap kali ada orang yang meninggal tanpa memiliki keturunan (purpur), mereka akan mengadakan tarian Sigale-gale dan menghabiskan hartanya untuk orang banyak.
Saat memakamkan Sigale-gale bersama jenazah orang yang malang tersebut, bagian kepala Sigale-gale dibawa kembali ke desa dan dimasukkan ke dalam rumah. Namun, kepala itu tidak boleh dimasukkan melalui pintu depan, melainkan melalui kolong rumah (bara).
Jika ada seseorang yang menderita penyakit menahun, dibuatlah tiruan Sigale-gale yang disebut "Parsili". Parsili ini dibuat dari batang pisang sebagai pengganti diri si orang sakit, dengan harapan agar penyakitnya hilang dan ia sembuh kembali.
Begitulah asal-mula Sigale-gale dalam cerita rakyat Batak.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
