92.4 Del FM Connecting You to Toba
Del FM
BATAK PRIDE

“Tangihon Ahu”: The Artya dan Leonardo Silalahi Bawa Cerita Danau Toba Lewat Musik Batak

TOBA — Danau Toba kembali menjadi sumber inspirasi dalam karya musik Batak Toba. Kali ini, grup The Artya menggandeng konten kreator Leonardo Silalahi dalam single terbaru berjudul “Tangihon Ahu”.

Nama Leonardo Silalahi selama ini dikenal lewat konten komedi dengan gaya “yapping” berbahasa Batak yang khas. Namun dalam karya terbaru ini, ia tampil dalam sisi yang berbeda sebagai vokalis.

Kolaborasi tersebut mempertemukan karakter Leonardo yang dekat dengan generasi digital dengan eksplorasi musik Batak Toba dan musik kontemporer yang menjadi warna The Artya.

The Artya dan Eksplorasi Musik Batak Toba

The Artya merupakan grup musik world fusion yang mengeksplorasi musik tradisional Batak Toba dengan berbagai warna musik modern.

Grup ini beranggotakan ArtDo Gryand Failix Sitohang, Goldy Nathaniel, Andrey George Foreman Siagian, Anna Febiola Bethania Hutapea, dan Putri Diannastasya Tamara Hutagalung.

Sebelumnya, The Artya memperkenalkan pendekatan musikal mereka melalui “Bona Pasogit”, yang memadukan elemen musik etnik Batak, termasuk tagading, dengan sentuhan electro-house dan dance.

Melalui “Tangihon Ahu”, eksplorasi tersebut hadir dengan nuansa yang lebih emosional dan membawa Danau Toba sebagai bagian penting dari cerita lagu.

Danau Toba Seolah Memanggil Anak Rantau

“Tangihon Ahu” bercerita tentang keindahan Danau Toba, akar budaya, dan kerinduan untuk kembali ke kampung halaman atau Bona Pasogit.

Dalam konsep lagunya, Danau Toba seolah dipersonifikasikan sebagai sosok yang memanggil anak-anaknya untuk kembali.

Pesan tersebut juga hadir melalui tiga bahasa: Batak Toba, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Pilihan ini membuat cerita tentang Danau Toba dan kerinduan terhadap kampung halaman dapat menjangkau pendengar yang lebih luas.

Secara musikal, lagu dibuka dengan tagading dan ambience khas Batak Toba, kemudian berkembang ke dalam aransemen yang lebih modern. Nuansa choir di bagian awal turut memperkuat atmosfer musik tradisional.

Leonardo Silalahi Hadir dengan Warna Berbeda

Kehadiran Leonardo menjadi salah satu daya tarik “Tangihon Ahu”.

Jika sebelumnya ia dikenal melalui konten komedi dan gaya bicara khas Bataknya, kali ini Leonardo menggunakan suaranya untuk menyampaikan cerita tentang Danau Toba dan kerinduan pulang.

Kolaborasi ini juga memperlihatkan bagaimana musik tradisional dapat bertemu dengan karakter kreator digital tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.

Bagi The Artya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari eksplorasi untuk membawa musik Batak Toba ke bentuk yang lebih dekat dengan pendengar masa kini.

Pada akhirnya, “Tangihon Ahu” tidak hanya berbicara tentang Danau Toba. Lagu ini membawa tema yang lebih luas: tentang akar, identitas, dan rasa rindu kepada kampung halaman.

Bagi mereka yang sedang berada jauh dari Bona Pasogit, mungkin pesan lagunya sederhana:

kadang, sejauh apa pun pergi, ada sesuatu yang selalu memanggil untuk pulang.

The Artya ft. Leonardo Silalahi — “Tangihon Ahu” kini telah dirilis di berbagai platform musik digital.

Tinggalkan Komentar

Hubungi Del FM Online

Silakan pilih saluran chat yang Anda inginkan:

Chat via WhatsApp
Respon cepat via WA: 0811-6219-924
📣 LAPOR DEL FM
Portal Resmi

Sarana pengaduan, aspirasi, dan kritik masyarakat. Setiap laporan akan kami terima, verifikasi, dan tindak lanjuti secara transparan & responsif.