TOBA – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba telah berlangsung selama 16 hari, terhitung sejak 21 September hingga 6 Oktober 2026. Operasi yang dilaksanakan Perum Jasa Tirta I (PJT I) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan dukungan PT Inalum, ini menunjukkan peningkatan curah hujan dan aliran air masuk ke Danau Toba.
Berdasarkan hasil evaluasi selama periode tersebut, curah hujan meningkat sebesar 27,6 persen dibandingkan dengan kondisi dasar (baseline) yang telah disepakati. Sementara itu, aliran air masuk (inflow) ke Danau Toba meningkat sebesar 90,02 persen.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, mengatakan peningkatan tersebut turut berdampak pada kenaikan elevasi Danau Toba sebesar 8,8 sentimeter. Elevasi danau tercatat naik dari 902,776 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 21 September menjadi 902,864 mdpl pada 6 Oktober 2026.
“Kalau dari sisi hidrologi, berdasarkan evaluasi, curah hujan bertambah sekitar 27,6 persen dibandingkan baseline. Ini menghasilkan tambahan inflow sebesar 90,02 persen. Secara konkret, hal ini menambah tinggi muka air Danau Toba sekitar 8,8 sentimeter,” ujar Budi.
Ia membandingkan capaian tersebut dengan pelaksanaan OMC Tahap I, ketika kenaikan tinggi muka air Danau Toba tercatat sekitar 4,5 sentimeter. Menurutnya, kenaikan pada Tahap II selama 16 hari tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan capaian Tahap I.
Selama pelaksanaan OMC Tahap II, tim telah melakukan 23 sorti penerbangan dengan total waktu terbang 31 jam 7 menit. Operasi tersebut juga menggunakan 50 batang flare serta 12.015 kilogram natrium klorida (NaCl) dalam 16 sorti penerbangan.
Selain mendukung peningkatan elevasi danau, pelaksanaan OMC juga ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air di kawasan sekitar Danau Toba, termasuk untuk sektor pertanian dan energi.
Kepala Subdivisi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Toba Asahan I, Gede Santika Dharma, mengatakan operasi tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan dan air, terutama di tengah kondisi kekeringan yang berdampak pada sejumlah daerah irigasi dan embung di sekitar Danau Toba.
“PJT I menyelenggarakan OMC ini untuk mendukung program pemerintah dalam rangka ketahanan pangan dan air. Kita ketahui bersama, daerah irigasi di sekitar Danau Toba banyak mengalami kekeringan, sementara embung-embung juga mengalami defisit air,” kata Gede.
Ia menambahkan, berdasarkan pengecekan tim terhadap 10 titik embung di kawasan Danau Toba, air dilaporkan telah mengisi embung-embung tersebut.
Di sisi lain, prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan lebat pada 9–10 Oktober 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pemantauan cuaca dan pengelolaan sumber daya air di kawasan Danau Toba.
Tinggalkan Komentar