Turi-turian Batu Horbo: Cinta yang Tak Seharusnya Dua Saudara
- S R
- 21 Oct, 2025
Setiap jengkal tanah di Tano Toba seakan memiliki ceritanya sendiri. Salah satu Turi-turian (cerita rakyat) yang sarat akan pesan moral datang dari Desa Natolu Tali, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba. Kisah ini dikenal dengan nama Legenda Batu Horbo.
Cerita ini mengisahkan tentang dua orang saudara kandung (mariboto), seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang hidup di satu desa. Keduanya tumbuh bersama di bawah asuhan orang tua mereka yang bekerja sebagai petani (pangulaula).
Meskipun berprofesi sebagai petani, orang tua mereka memiliki banyak sekali kerbau (horbo). Karena banyaknya ternak mereka, kedua anak ini si abang dan si adik diberi tugas untuk menggembalakan (marmahan) kerbau-kerbau itu setiap hari.
Dengan patuh, setiap pagi buta, keduanya berangkat membawa kerbau-kerbau mereka menuju panjapalan (padang penggembalaan) yang terletak di perbukitan dekat desa. Mereka juga membawa bekal makanan dan minuman, sebab mereka baru akan pulang pada sore hari. Keduanya dikenal sangat rajin dan rukun, membuat orang tua mereka bangga dan warga desa memuji kerajinan mereka.
Waktu terus berjalan, kedua saudara itu pun beranjak dewasa. Si laki-laki tumbuh menjadi pemuda yang gagah, dan si perempuan tumbuh menjadi gadis yang jelita.
Setiap hari, mereka habiskan waktu hanya berdua di panjapalan yang sunyi dan lengang. Di sinilah, seperti kata orang tua dulu, ro ma sibolis partanduk na jahat i (datanglah iblis bertanduk yang jahat itu).
Tumbuhlah hasrat yang tak pantas (hagigiot na so suman) di antara keduanya. Perasaan yang tidak seharusnya ada di antara saudara kandung mulai bersemi. Mereka lupa siapa diri mereka sebenarnya. Terjadilah hubungan terlarang di antara dua saudara kandung itu.
Meski tidak ada seorang pun manusia yang mengetahui perbuatan terlarang mereka, Tuhan Yang Maha Melihat mengetahui segalanya. Murka-Nya pun datang.
Pada suatu siang, ketika keduanya masih menggembalakan kerbau, cuaca tiba-tiba berubah drastis. Langit yang cerah mendadak menjadi gelap. Angin kencang (alogo) mulai berembus, diikuti suara guntur (ronggur) yang menggelegar dahsyat. Tak lama kemudian, hujan badai (udan habahaba) turun dengan sangat lebatnya.
Dalam ketakutan, keduanya berusaha menggiring kerbau mereka untuk pulang menuruni bukit. Di tengah hujan badai itu, kilat (sillam) menyambar-nyambar tanpa henti.
Tepat di tengah perjalanan pulang, sebuah petir dan guntur yang dahsyat menyambar kedua saudara itu beserta kerbau-kerbau yang mereka gembalakan. Seketika, mereka semua berubah menjadi batu.
Kisah Batu Horbo ini menjadi legenda yang terus diceritakan turun-temurun di Silaen. Turi-turian ini berakhir dengan pesan moral yang kuat:
"Sayangilah saudaramu dengan sayang saudara, bukan sayang atau cinta-cintaan, karena Tuhan melihat semua perbuatan kita manusia."
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
