Legenda Si Mardan: "Malin Kundang" Versi Tanah Batak

top-news
  • S R
  • 05 Jan, 2025

Banyak orang tahu kisah Malin Kundang dari Sumatera Barat, tapi tahukah kamu? Tanah Batak juga punya kisah serupa yang tak kalah menyayat hati. Inilah kisah Si Mardan, sebuah turi-turian (cerita rakyat) tentang rindu yang dibalas air tuba.

Dikisahkan di Toba Holbung, hiduplah seorang janda bernama Si Tapian Na Omas dengan anak semata wayangnya, Si Mardan. Hidup mereka awalnya damai, hingga masa haleon potir (bencana kelaparan dan kemarau panjang) melanda. Tanah kering, tak ada yang bisa dimakan. Demi menyambung hidup, Si Mardan meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau ke tanah Asahan. Dengan berat hati, ibunya melepasnya. Mardan pun berjalan jauh, menembus hutan rimba (tombak longo-longo), naik turun gunung, hingga akhirnya sampailah ia di Asahan.

Di tanah rantau, Mardan bekerja keras. Karena dia burju (baik) dan malo mambuat roha (pandai mengambil hati), ia disayang majikannya, hingga akhirnya dinikahkan dengan putri majikan tersebut. Mardan pun menjadi Namora Jong (orang kaya raya). Hartanya melimpah dan rumahnya gadang. Tapi sayang, kemewahan itu membuatnya lupa. Tak ada surat, tak ada kabar untuk ibunya yang semakin tua di Toba.

Sementara itu di kampung halaman, ibunya menahan rindu setengah mati (masihol). Karena tak tahan lagi, Si Tapian Na Omas nekat berjalan kaki menyusul ke Asahan. Tujuh hari tujuh malam ia berjalan. Kakinya bengkak (magurbak simanjojakna), perutnya lapar, dan bajunya lusuh. Ia bertanya ke setiap orang, hingga akhirnya ia menemukan rumah megah milik anaknya.

Dari kejauhan, ia melihat Si Mardan. Dengan sisa tenaga, ia berlari dan berseru dalam bahasa Batak: "O, anakhu Mardan! Nunga ro ahu, loja mangalului ho. Dison do ho hape!" (O, anakku Mardan! Ibu sudah datang, lelah aku mencarimu. Ternyata kau di sini!). Tapi apa jawaban Mardan? Ia malu melihat ibunya yang kotor di depan istrinya dan orang banyak. Ia membentak: "Ndang anakmu ahu! Ndada songon ho inanghu!" (Aku bukan anakmu! Ibuku tidak seperti kau!).

Istri Mardan yang iba sempat berkata, "Molo inanta do antong nasida, toguma tu jabu asa tapaias." (Kalau memang dia ibumu, ajaklah masuk biar kita bersihkan). Namun hati Mardan sudah tertutup gengsi. Ia menendang ibunya sambil berkata pedas: "Na pasamak-samakhon do i! Ndang songon i rotak ni inanghu, ndang inanghu i!" (Dia hanya mengaku-ngaku! Ibuku tidak kotor seperti itu, itu bukan ibuku!).

Sang ibu pun terjungkal (singgalak) di tanah. Hatinya hancur bukan karena sakit fisik, tapi karena pengakuan anaknya. Di halaman rumah mewah itu, ia menengadah ke langit dan memanjatkan tonggo (doa) kepada Sang Pencipta: "Ompung Mulajadi na Bolon, pargogo na so hatudosan, tangihon ahu na jou-jouon... Nunga diparsoada si Mardan ahu pangintubuna. Bahen ma tanda halongangan asa muba rohana..." (Tuhan Yang Maha Kuasa, dengarkan seruanku... Si Mardan telah menyangkal aku yang melahirkannya. Berilah tanda kuasa-Mu agar dia sadar).

Seketika langit gelap. Hujan badai dan angin kencang datang. Air bah naik menenggelamkan lokasi itu menjadi lautan. Mardan mencoba lari ke perahunya, tapi terlambat. Petir menyambar, perahunya pecah (pultak), dan ia tewas tenggelam. Tempat itu kemudian menjelma menjadi sebuah pulau yang kini dikenal sebagai Pulo Simardan di Tanjung Balai, Asahan. Sang ibu selamat, namun ia meninggal dalam perjalanan pulang karena kesedihan yang mendalam.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesuksesan di tanah rantau tidak ada artinya jika kita melupakan "kramat hidup" kita, yaitu orang tua. "Unang gabusu i Inangmu, ai i do donganmu gabe" (Jangan bohongi ibumu, karena dialah temanmu menuju sukses).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *